Alasan Mengapa Saya Berhenti Bekerja di BRI

Jumat, 30 November 2018 - Jika ada yang meninggal, maka yang paling bagus adalah meninggal di hari Jumat. Begitupun jika ada yang lahir, yang paling bagus adalah lahirnya di hari Jumat. Dan hari ini adalah hari terakhir saya bekerja di BRI, dan itu juga terjadi pada hari Jumat.

hari terakhir masuk kerja; Jumat, 30 November 2018
Yaa.. saya memutuskan untuk berhenti. Bukan karena tidak sanggup, karena ada beberapa hal yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Saya berusaha biasa saja untuk mengakhiri hari ini, mungkin pulang akan bersalaman bersama-sama rekan2 dan berlalu kemudian berpisah. Saya juga tidak ingin terlalu berlebihan dalam menanggapi hal ini, jujur saya tidak terlalu suka dengan perpisahan, karena menurut saya larut dalam perpisahan hanya akan menimbulkan reaksi kimia yang berlebihan pada otak dan otomatis akan berpengaruh kepada prilaku sehingga membuat sesorang gampang sedih, termenung dan juga bisa menimbulkan iba hati.

Jujur dari dalam hati, ada sedikit rasa ‘asing’ yang melanda diri. Bagaimana tidak, kurang lebih 12 jam sehari saya habiskan di kantor dan bersama orang2 itu saja, jauh lebih banyak dari waktu saya di rumah. Kami sudah sepeti keluarga, memang ada rasa sedih dalam hati, tapi rasanya kata ‘sedih’ tidak menggambarkan yang saya rasakan saat ini. Haru bercampur bangga saya rasakan hari ini, mengingat ada hal baru yang saya tau hari ini.

Ternyata teman-teman kerja saya, sangat memperhatikan dan ‘mengakui’ adanya seorang igun. Jujur, sayapun tidak menyangka akan seperti ini, mulai dari pimpinan, teman2 mantri, dan teman2 frontliner saya melihat ada rasa kehilangan di mata mereka, rasa menyayangkan ‘mengapa harus pergi?’ dan disisi lain mereka juga mendukung ‘semangat dan teruskan perjuanganmu’. Baru hari ini, ternyata saya sangat penting bagi teman-teman di kantor. Saya rasa tidak ada yang spesial, saya hanya tampil dengan diri sendiri tanpa bermain topeng, saya hanya kerja lebih keras dan berusaha memastikan sesuatu terletak tempatnya, saya hanya ingin memastikan jika orang lain nyaman atas amanat yang mereka berikan, dan hanya itu.

Baik, kembali lagi ke cerita hari ini…
Dari pagi suasana kantor biasa saja, tidak ada yang spesial meski ini adalah hari terakhir saya bekerja di kantor ini. Tetapi semuanya berubah sejak Maghrib, pak kepala mengumpulkan kami di ruangan tengah, dan benar saja, beliau memberikan pengarahan sedikit kata perpisahan untuk saya yang tidak akan masuk lagi. Bukan hanya saya, kali ini saya dan pak Eki (satpam kami yang baru mengalami kejadian yang cukup memilukan dalam hidupnya, anak beliau yang masih bayi meninggal dunia), saya dan pak Eki diberi semacam sumbangan sebagai ‘kenang-kenangan’ bagi saya, dan ‘pelipur lara’ bagi pak eki. Sungguh, diri saya pribadi sangat tidak enak menerima ini, bukan ini yang saya harapkan, tapi ditolak pun juga tidak bisa, karena tentulah itu sangat tidak sopan.

Memang tidak bisa berkata apa-apa lagi, malam ini terlihat kepedulian teman-teman terhadap seseorang yang cukup “cuek” ini. Bukan hanya dikantor, teman-teman lain melalui w.a memberikan semangat,

“Semoga sukses ke depannya gun”…

“Jangan lupakan kami, yaa”

“Mudah-mudahan nanti kita bertemu lagi..”

Tak henti2nya saya mendengar kalimat itu malam ini.. dan ada sesorang sejak tadi pagi, bahkan pagi sekali sudah mengirimi saya kalimat bernada melalui pesan singkat

“Semangat kerja di hari terakhir gun..
Semoga Allah mengganti dengan rezeki yang lebih baik…
Aamiin..”

Pagi, bahkan sangat pagi sekali dia mengirimkan kan ini. Sayapun langsung mengaminkan dalam hati.

Hufft, sudah malam juga, 3 menit lagi sudah jam setengah satu dan benar, sekarang bukan November lagi.

Terima kasih teman-teman semua, bukan mudah bagi saya untuk membiasakan diri kembali dengan keadaan yang baru, dengan lingkungan baru, bahkan mungkin dengan pekerjaan baru. Ada kalanya kita harus mundur satu langkah untuk bisa melompat lebih jauh. Jika ada yang merasa saya terlalu keras, saya mohon maaf, sedikitpun tidak bermaksud seperti itu. Jika mata tak mampu bertemu, cukup hatilah yang jadi penyatu.

Sampai jumpa di suasana dan waktu yang berbeda teman-teman, semoga diri kita semua bisa dari hari ke hari bisa menjadi pribadi yang lebih baik serta rezeki yang didapatkan selalu diridhoi untuk membuka jalan meraih jannah-Nya. Aamiin.

2 Komentar untuk "Alasan Mengapa Saya Berhenti Bekerja di BRI"

  1. Gan ni template viomagz versi berapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga tau gan, ini template saya beli di mas sugeng... pengaturannya juga standard sekali

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel